Jakartaku yang tak pernah lelah menghembuskan nafasnya.
Kejam dan murah manusia didalamnya ia telan bulat-bulat. Tak pernah ada jeda istirahatnya untuk sesekali ia menghirup udara dengan rileks. Disini, jarum jam berdetak begitu cepat. Bahkan, tak pernah ia kenali kata 'berhenti'.
Kala malam mulai menunjukkan keangkuhannya pada dunia. Jakartalah yang paling kuat merasa. Merasakan kesusahan hidup kaum papa yang beralaskan langit gelap, yang merasakan ciuman bibir bergincu tebal para hawa, yang merasakan taburan kemewahan hamparan uang dihotel kelas melati sampai bintang lima itu, dan hingar-bingar bola lampu yang terus berputar tak kenal waktu. Tapi pernah kulihat saat gempita malam itu, ada gadis menangis karena (mungkin) ia kehilangan sesuatu. Kehilangan ibunya yang pergi meninggalkannya, kehilangan sanak-saudara yang enggan mengasuh dan merawatnya karena tak punya biaya lagi, atau ia kehilangan keperawanannya karena ulah pria biadab. Banyak kemungkinan mengapa gadis itu menangis. Yang jelas, tangisannya kosong dan penuh harap.
Jakarta....oh..Jakarta,
Tua nian usiamu. Harusnya kini kau sudah habis dimakan zaman. Digrogoti belatung dan cacing yang lapar. Tapi, kau bak remaja puber saja, remaja puber yang gesit, lincah, dan 'nakal'.
Begitulah dirimu, Jakarta yang selalu gegap gempita dimalam hari. Tak pernah sunyi. Tak pernah sepi. Malam adalah kejantananmu. Dan ku pikir, selalu saja kau tunjukkan kejantananmu itu dengan cara-cara yang kampungan, kotor, dan murahan. Kalian para pencari kenikmatan, selalu menjadikan malam sebagai ajang pencarian. Mencari liuk indah dan rayuan lembut, mencari kesenangan, mencari kebahagiaan, mencari sesuap nasi, bahkan mencari lembaran rupiah diantara dosa dan neraka.
Apa sebenarnya mau mereka? Ya, kenikmatan dan kepuasan yang bicara.
Gegap gempita Jakarta waktu malam, begitu luas untuk disimpulkan. Dan begitu sulit tak terjamahkan.
Kejam dan murah manusia didalamnya ia telan bulat-bulat. Tak pernah ada jeda istirahatnya untuk sesekali ia menghirup udara dengan rileks. Disini, jarum jam berdetak begitu cepat. Bahkan, tak pernah ia kenali kata 'berhenti'.
Kala malam mulai menunjukkan keangkuhannya pada dunia. Jakartalah yang paling kuat merasa. Merasakan kesusahan hidup kaum papa yang beralaskan langit gelap, yang merasakan ciuman bibir bergincu tebal para hawa, yang merasakan taburan kemewahan hamparan uang dihotel kelas melati sampai bintang lima itu, dan hingar-bingar bola lampu yang terus berputar tak kenal waktu. Tapi pernah kulihat saat gempita malam itu, ada gadis menangis karena (mungkin) ia kehilangan sesuatu. Kehilangan ibunya yang pergi meninggalkannya, kehilangan sanak-saudara yang enggan mengasuh dan merawatnya karena tak punya biaya lagi, atau ia kehilangan keperawanannya karena ulah pria biadab. Banyak kemungkinan mengapa gadis itu menangis. Yang jelas, tangisannya kosong dan penuh harap.
Jakarta....oh..Jakarta,
Tua nian usiamu. Harusnya kini kau sudah habis dimakan zaman. Digrogoti belatung dan cacing yang lapar. Tapi, kau bak remaja puber saja, remaja puber yang gesit, lincah, dan 'nakal'.
Begitulah dirimu, Jakarta yang selalu gegap gempita dimalam hari. Tak pernah sunyi. Tak pernah sepi. Malam adalah kejantananmu. Dan ku pikir, selalu saja kau tunjukkan kejantananmu itu dengan cara-cara yang kampungan, kotor, dan murahan. Kalian para pencari kenikmatan, selalu menjadikan malam sebagai ajang pencarian. Mencari liuk indah dan rayuan lembut, mencari kesenangan, mencari kebahagiaan, mencari sesuap nasi, bahkan mencari lembaran rupiah diantara dosa dan neraka.
Apa sebenarnya mau mereka? Ya, kenikmatan dan kepuasan yang bicara.
Gegap gempita Jakarta waktu malam, begitu luas untuk disimpulkan. Dan begitu sulit tak terjamahkan.

hohoho...
BalasHapus